Senin, 25 Desember 2017

Upaya DD Mengentaskan Kemiskinan

Apa yang terlintas dipikiranmu soal kata MISKIN? Kalau yang terlintas dipikiran saya, miskin itu yang gurih-gurih kalau dimakan dan disukai kids zaman now. Oh maaf, itu mecin.

Arti kata miskin di KBBI adalah tidak berharta; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah). Nah kata berpenghasilan sangat rendah ini tergantung tempatnya. Orang miskin di Indonesia dengan orang miskin di Amerika berbeda penghasilannya.

Di Indonesia, orang dikatakan miskin jika dalam satu keluarga berpenghasilan Rp 233.740. Sedangkan di Amerika orang miskin adalah orang yang berpenghasilan 11.139 US dolar pertahun atau perbulannya sekitar Rp 12,5 juta . Jika dihitung perkeluarga, maka disebut keluarga miskin jika berpenghasilan Rp 21,5 juta. Nah berarti kalau saya pergi ke Amerika, maka bisa dikatakan saya termasuk orang miskin.

Berbicara soal kemiskinan, Kamis (21/12) saya menghadiri Indonesia Poverty Outlook 2018 di Museum Kebangkitan Nasional. Ada beberapa hal yang saya garis bawahi dalam diskusi saat itu. Prof Ahmad Erani Yustika, menceritakan bahwa pemerintah telah bekerja keras menggerakkan pembangunan untuk daerah tertinggal, baik itu dari pembangunan jalan, jembatan dan pembangunan infrastruktur lainnya.





Pimpinan Redaski Jawa Pos, Marsudi Nur Wahid menjelaskan ada dampak positif dan negatif terkait pembangunan infrastruktur seperti jalan raya dan jalan tol. Dampak positifnya yaitu dengan dibangun jalan, maka biaya transportasi menjadi lebih murah, sehingga mampu menyediakan kebutuhan yang murah untuk rakyat. Kemudian dengan dibangunnya jalan juga mampu menggerakkan sektor perekonomian yang tadinya tak tersentuh.

Dampak negatifnya adalah adanya kegiatan perekonomian yang meredup. Contohnya di jalan Pantura. Di sekitar jalan tersebut, sudah tidak lagi ramai warung-warung di pinggir jalan seperti dulu. Hal itu karena jalan Pantura sekarang bukan lagi menjadi jalan utama. Kendaraan banyak beralih melalui jalan tol Cipali.

Selain itu Ia juga menjelaskan dampak positif dan negatfi dari adanya dana desa. Jalan dan embung bertambah. Lapangan kerja terbuka. Dampak negatifnya, pengelolaan Dana Desa belum optimal, karena masih ditemukan penyelewengan. Ia menemukan bahwa penyelewengan Dana Desa ini tidak sepenuhnya penyelewengan. Ada Kepala Desa yang tidak tahu cara penggunaan yang tepat mengenai Dana Desa.

Contohnya di Sidoarjo ada kepala desa yang mengunakan Dana Desa untuk pembagian sembako. Di pendataan ada 1000 orang. Namun saat mau pembagian, ternyata ada 2000 orang. Akhirnya kepala desa dan timnya harus membagi lagi satu sembako menjadi dua. Contoh beras yang tadinya 1 kg per orang menjadi 1/2 kg per orang. Nah, karena hal ini tidak sesuai saat pengajuan, akhirnya menjadi masalah.

Selain itu Dana Desa juga belum efektif membantu pengentasan kemiskinan. Beredasarkan data BPS, dari 2,77 juta orang miskin di Indonesia, 61,6% ada di desa. Kemudian ekonomi desa belum bergerak signifikan. Ini menjadi PR bersama, bukan hanya pemerintah, tapi juga swasta dan segenap masyarakat untuk berpartisipasi mengentaskan kemiskinan.




Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi, dr. Imam Rulyawan, MARS., menjelaskan "Dalam upaya pengentasan kemsikinan, Dompet Dhuafa memilik banyak program terintegrasi di wilayah pedesaan yang dinamakan dengan klaster mandiri. Memberdayakan masyarakat dari program kesehatan, pendidikan, agama dan ekonomi dalah satu wilayah desa. Sehingga masyarakat desa sebagai unit-unit produksi bisa mandiri secara perekonomian."

Salah satu program DD yang pernah saya tuliskan di blog ini adalah Kurbanesia. Cek tulisannya disini. Terkait dengan infrastruktur, DD memiliki program wakaf yang produktif. Cek tulisannya disini. 

Nah bagi kamu yang ingin tahu lebih banyak mengenai program-program Dompet Dhuafa bisa  dibuka di https://www.dompetdhuafa.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nekat Lari 25 KM: Dari Stasiun Depok Lama ke Balai Kota Bogor

Lari 25 KM dari Stasiun Depok Lama menuju Balai Kota Bogor adalah hal nekat yang saya lakukan. Tanpa latihan dan persiapan yang matang, saya...