Jumat, 21 Juli 2017

Nekat Lari 25 KM: Dari Stasiun Depok Lama ke Balai Kota Bogor

Lari 25 KM dari Stasiun Depok Lama menuju Balai Kota Bogor adalah hal nekat yang saya lakukan. Tanpa latihan dan persiapan yang matang, saya tantang diri saya untuk berlari 25 km.



Di November 2016 saya melihat ada kegiatan Tugu to Tugu yang diadakan Bogor Runners. Jarak yang mesti ditempuh adalah 50 km dari Tugu Monas melewati Tugu Kujang di Bogor dan finish di Balai Kota Bogor.

Ternyata ada yang jarak lebih pendek lagi, yaitu 25 km, berlari dari Stasiun Depok Lama menuju Kota Bogor. Saya pun coba langsung mendaftar. Padahal saya sudah lama sekali tidak lari waktu itu. Saya terakhir berlari pada tahun 2014, jarak 10 km saat event Jakarta International yang diadakan Milo di tahun 2014; Monas-Universitas Atmajaya-Monas.

Kemudian tersisa waktu satu bulan, saya mencoba menyiapkan diri. Namun apa daya, kegiatan saat itu membuat saya hanya memiliki persiapan pas-pasan. Dalam seminggu saya hanya berlari 3-5 km.

Hingga diakhir November, saya usahakan berlari jauh dari rumah di Kebayoran Lama hingga Kampus UIN di Ciputat dengan jarak 10 km. Dan di bulan Desember, saya tidak pula rutin berlari. Padahal event Tugu to Tugu akan berlangsung tanggal 31 Desember. Tepat perayaan Tahun Baru 2017.

Nekat Berlari


Saat tanggal 31 Desember tiba, saya tetap nekat ikutan. Saya menantang diri saya, apakah saya sanggup berlari hingga 25 KM.

Waktu berlari di mulai pukul 19.30 dari Koramil dekat Stasiun Depok Lama. Gawatnya, sore harinya saya lupa sarapan. Saya pun harus nekat berlari ketika perut dalam kondisi lapar.

Saat itu dipikiran saya hanya berlari. Lambaian tangan orang-orang di pinggir jalan, menyapa para pelari, memberikan suntikan semangat bagi saya untuk terus berlari.

Pos istirahat ada di Mc Donald Cibinong, tidak jauh dari Pusat Pemerintahan Kota Cibinong. Ini adalah jarak pertengahan, sekitar 12 KM.

Alhamdulillah, saya ternyat berhasil sampai ke titik ini. Namun saya merasa cukup lemas dan kehabisan energi. Untungnya ada penjual pisang di pinggir jalan. Saya pun membeli pisang.

depok-bogor

Kaki Mulai Keram 


Saat kira-kira sampai jarak 15 km, kaki saya mulai keras, telapak panas, dan punggung pegal-pegal. Saya istirahat sebentar, membuka sepatu dan beli air minum di Indomaret.

Saat mencoba lanjutkan berlari, ternyata tiba-tiba kaki mulai keras kembali. Sepertinya tanda-tanda akan keram.

Dipinggir jalan ada beberapa pelari yang berjatuhan karena keram.

Saya coba mengatur strategi. Ketika kaki mengeras, maka saya coba berjalan. Ketika kaki sudah "empuk" saya kembali berlari.

Jarak yang paling berat adalah ketika berada di jalan menuju Tugu Kujang yang terus menanjak. Saya merasa ingin berhenti, tapi jarak tinggal 5 KM lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 23 lewat. Dan cutt of time pukul 00:30. Disitu saya hanya berpikir untuk finish.

Saya yakin jika saya terus berjalan, maka saya akan sampai finish sebelum cutt of time.

Ternyata benar, jam 00:00, tepat tanggal 1 Januari 2017, saya tiba di Tugu Kujang. Disana sudah ramai orang, untuk merayakan tahun baru. Saat itu Walikota Bogor, Arya Bima juga sedang meresmikan transportasi Wisata di Bogor.

Jarak finish tinggal 1 km menuju Balai Kota Bogor. Saya merasa mendapat angin segar. Tiba-tiba kaki saya yang mungkin sudah keras seperti singkong karet, kembali bisa berlari walupun lambat.

Alhamdulillah saya finish pukul 00:15. Kurang lebih 15 menit sebelum cutt of time.

Sempat foto di Tugu Kujang saat peresmian Angkutan Wisata Bogor. Hasilnya blur, karena badan udah sempoyongan.

Muntah-Muntah


Selesai berlari, saya tidak langsung pulang, karena kereta baru ada pagi hari. Saya menginap di masjid kantor walikota.

Pukul 02:00 saya terbangun dan tiba-tiba perut mual. Saya muntah-muntah. Namun karena perut saya isinya hanya pisang, maka muntahnya hanya cair kental seperti jus pisang.

Azan subuh berkumandang, saya bangun untuk menunaikan sholat shubuh. Namun saat doa Qunut, saya kembali mual. Saya langsung membatalkan sholat dan pergi ke kamar mandi. Saya kembali muntah-muntah.

Saat pagi tiba saya pergi ke stasiun Bogor dan menuju salah satu warung kopi untuk membeli teh dan tolak angin. Saya pun mengisi perut saya dengan roti. Saya merasa perut saya enakan.

Namun saat Commuter Line, AC kereta membuat kepala saya pusing dan mual. Saya pun mulai tak tahan. Pas di stasiun Citayam, saya muntah di dalam kereta. Untungya saya sudah siap plastik. Saya pun langsung keluar kereta dan istirahat sebentar di stasiun.

Setelah perut merasa enakan, saya melanjutkan perjalanan pulang.

Pelajaran Berharga

Dari kegiatan lari ini saya mengambil pelajaran berharga. Bahwa berlari jarak jauh itu butuh latihan dan persiapan. Banyak orang yang berhasil finish dan ada pula sebagian yang gagal. Ada yang finish dengan segar dan ada pula yang membawa cedera.

Saya kagum ketika ada seorang Kakek berusia hampir 70 tahun dan ibu berusia 45 tahun berhasil finish dari Monas ke Bogor (50 km). Alhamdulillah saya pun finish dengan modal tekad dan nekat. Selain muntah-muntah, kaki dan punggung pegal jadi oleh-oleh yang saya bawa. Tiga hari sesudahnya saya merasa jadi orang tua yang sudah mulai kesulitan berjalan. Hingga seminggu sesudahnya saya baru bisa berlari dengan normal kembali.

Apakah saya trauma berlari? Tidak. Justru malah semakin tertantang untuk berlari lagi. Hari minggu nanti, saya mau berlari lagi di acara Jakarta International 10 km.

8 komentar:

  1. Wah, salut deh dengan kenekatannya yang membawa hasil walaupun dengan muntah-muntah, hehe... Btw, spellingnya sepertinya NEKAT bukan NEKAD. Betul gak pendapat bunda ini, ya?

    BalasHapus
  2. Iya betul bun, sepertinya saya salah tulis. Makasih koreksinya bun.

    BalasHapus
  3. sedaaaap dan gilaaaa ini namanya. Lari dari Depok ke Bogor. Ngos-ngosannya bukan lagi itu.

    BalasHapus
  4. Jadi hemat enggak perlu naik kereta. Jadi enggak perlu keluar ongkos tiket kereta haha. Ini mas yogi sampai muntah-muntah lagi. tapi walaupun gitu, tetep bangga ya sama diri sendiri karena berhasil lari sejauh itu.

    BalasHapus
  5. kalo ngos-ngosan sih ga yah karena saya larinya lambat. Tapi kakinya panas, kenceng dan pegel-pegel. :D

    BalasHapus
  6. Hahaha bisa aje.
    Kalau muntah itu kayaknya gara-gara kecapean, asam lambung naik. Iya, pinginnya sih bisa lari lebih jauh lagi kayak full marathon 42 km. :)

    BalasHapus
  7. Ya Allah, untung gak kenapa-napa.. nekat banget! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah gak kenapa-kenapa. :)

      Hapus

Nekat Lari 25 KM: Dari Stasiun Depok Lama ke Balai Kota Bogor

Lari 25 KM dari Stasiun Depok Lama menuju Balai Kota Bogor adalah hal nekat yang saya lakukan. Tanpa latihan dan persiapan yang matang, saya...