Sabtu, 12 Juni 2021

Saving Private Ryan ; Film Perang yang Menampilkan Sisi Humanis

Saving Private Ryan (Sumber Ilustrasi: Pinterest: 
paulmannartist.com
)



Saving Private Ryan. Ada yang pernah nonton ini? Jujur saya baru nonton film ini setahun lalu di TV. Sebenarnya mau nulis tentang film ini setelah menonton film. Namun ternyata tulisan ini hanya tersimpan di draf dan gak di publikasikan. Kayaknya ada aja yang belum sempurna. Tapi mau disempurnakan seperti apa, juga gak bakalan sempurna. 

Ternyata setelah saya searching di google, film ini udah keluar tahun 1998. Aduh ketinggalan jaman banget ya saya. Maklum dulu tahun segitu, masih unyu-unyu banget. Tapi beruntung kemarin bisa nonton walaupun hanya di televisi. Padahal mata udah sliwir-sliwir. Maklum ini film tayangnya pas midnight.

Ditemani dengan setoples keripik pisang. Saya ikutin film ini walaupun gak dari awal. Saat nonton film perangnya, pertama keren, saya merasa kembali ke zaman SD-SMP dimana saat itu masih aktif main Counter Strike.

Saya merasakan ketegangan seperti saat main game Counter Strike. Ada yang megang senjata caliber 2, caliber 3, bahkan ada juga yang sniper. Saat melemparkan bom keren banget, serasa aye yang menyuruh untuk melempar bom.

Fire, fire, fire.

Teriakan itu seperti saat lagi main counter strike. Mungkin counter strike yang terinspirasi dari film ini.

Ini ilustrasi Game Counter Strike yang termasuk game favorit saya waktu SD-SMP (tahun 2003-an). Sumber ilustrasi: teknokompas.com


Film Saving Private Ryan bukan sekedar film perang namun juga menampilkan sisi humanis. Ada tokoh Upham, Kapten dan Ryan sendiri. Upham ini gak bisa perang. Ia dicari kapten karena kemampuannya dalam berbahasa Prancis dan Jerman.

Ryan adalah orang yang dicari kapten. Sang Kapten ditugaskan oleh atasannya untuk menyampaikan pesan kepada Ryan, bahwa seluruh saudara-saudara Ryan telah meninggal di medan perang. Ia membawa 10 anggotanya untuk ikut menjalankan misi yang gak penting ini (bagi sebagian orang). Namun sebagai militer, Kapten dan para anggotanya harus taat pada perintah.

Mereka pun pergi dan menghadapi berbagai halangan dan rintangan. Di suatu daerah ia berhasil menemukan nama Ryan. Namun nama lengkapnya berbeda.

Dia cari lagi, hingga melewati sebuah pasukan NAZI yang banyak. Dua pasukannya harus mati di medan perang. Bahkan ada satu yang ingin mengundurkan diri, namun tidak jadi. Kemampuan kapten dalam mempengaruhi pasukannya cukup kuat.

Misi terus berlanjut.

Upham. Salah satu karakter yang unik. Tidak bisa perang. Namun perannya cukup besar. Selain sebagai penerjemah bahasa Jerman, ia juga bertugas mengantarkan peluru kepada para pasukan. Bisa dibilang, kalau tidak ada Upham, maka para pasukan akan mati karena kehabisan peluru.

FUBAR: salah satu bahasa Jerman yang tidak diketahui oleh Upham.


Sang Kapten yang pantang menyerah juga keren banget. Ia benar-benar pantas menjadi kapten.

Ryan, mengapa Ia dicari? Sebenarnya tidak ada hal yang istimewa dari dirinya. Namun setelah menonton hingga akhir cerita saya tahu bahwa Ia rela untuk tetap berada di medan perang bersama teman-temannya. Padahal saat itu Ia harus pulang.

Kenapa Saving Private Ryan jadi film favorit saya, karena menampilkan sisi lain perang yaitu kemanusiaan.

Beberapa pelajaran yang biasa saya ambil dari film ini:

  1. Patuh pada perintah

  2. Jalankan amanah sebaik-baiknya, sekecil apapun amanahnya

  3. Jalankan setiap tantangan

  4. Jika kamu punya kekurangan maka kamu juga punya kelebihan

  5. Strategi penting

  6. Persiapan itu penting

  7. Pengorbanan, harapan, cita-cita.

  8. Taat pada aturan

  9. Junjung tinggi kemanusiaan.

Sekian dulu review  cerita singkat saya tentang film ini dan pelajaran yang bisa diambil. Sebenarnya ingin menulis banyak, tapi apa daya, jari-jari terasa kaku mungkin karena sudah terlalu lama tidak menulis di blog ini. Bagi yang ingin menonton filmnya bisa ditonton di aplikasi film resmi seperti netflix, dll. Ini saya tampilkan trailernya aja ya. 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nekat Lari 25 KM: Dari Stasiun Depok Lama ke Balai Kota Bogor

Lari 25 KM dari Stasiun Depok Lama menuju Balai Kota Bogor adalah hal nekat yang saya lakukan. Tanpa latihan dan persiapan yang matang, saya...