Minggu, 05 Agustus 2018

When Harry Met Sally; Ketika Akhirnya Menikah


When Harry Met Sally. Pernah ada yang nonton film ini? Saya aja baru sekali nonton film ini. Tahu-tahu film ini sudah ada di laptop. Ini karena ada teman yang suka download film dan downloadnya minjem laptop saya. Sebut saja namanya Topik.


Tapi saya tidak akan membahas, teman saya yang bernama Topik. Saya akan membahas film When Harry Met Sally yang dirilis 21 Juli 1989. Berarti sudah 29 tahun lalu. Saya aja belum lahir.

Film ini mengisahkan tentang laki-laki bernama Harry dan perempuan bernama Sally. Mereka berdua mempunyai tujuan sama untuk pergi ke New York. Harry ingin bekerja di New York dan Sally ingin melanjutkan sekolah Jurnaslisme.  Harry menumpang mobil Sally.

Selama di perjalanan, mereka berdiskusi tentang menjalani sebuah hubungan. Ada perdebatan diantara mereka. Harry menganggap bahwa laki-laki dan perempuan tidak bisa berteman karena ada hubungan seks yang menghalangi. Sedangkan Sally berpendapat bahwa laki-laki dan perempuan bisa berteman tanpa adanya hubungan seks.

Memang budaya barat seperti itu. Saat masuk umur 17 tahun. Hal yang sering dibicarakan oleh anak-anak Amerika adalah sudahkah kamu melakukan seks? Begitu juga ketika ada laki-laki dan perempuan yang pacaran, melakukan hubungan seksual adalah hal yang wajar.

Pertemuan Harry dan Sally unik. Setelah satu mobil berkendara ke New York, mereka baru bertemu 5 tahun kemudian di Bandara dan ternyata menaiki pesawat yang sama. Kemudian 5 tahun kemudian, mereka bertemu lagi di toko buku. Saat itu umur Sally sudah masuk kepala tiga namun belum juga menikah.

Sally merupakan wanita yang masih takut menikah karena ia mendengar cerita dari teman-temannya yang sudah menikah, bahwa pasangan tidak lagi seromantis saat pacaran. Dengan menikah ternyata kegiatan hubungan seksual juga berkurang. Apalagi ketika sudah mempunyai anak.

Tapi dari pertemuan di toko buku inilah Harry dan Sally akhirnya menjadi sahabat. Mereka saling menceritakan segala sesuatu tentang diri mereka. Bahkan mereka saling membantu untuk menemukan jodoh mereka. Namun usaha itu gagal.

Saya tidak ingin menceritakan keseluruhan film ini. Secara keseluruhan menghibur. Karena bukan hanya meghadirkan adegan romantis tapi juga ada komedinya. Film ini mungkin lebh cocok jika ditonton yang berusia 18+ atau bakan 21+. Akhir film ini happy ending (spoiler)Bagi yang penasaran, nonton aja filmnya.

Refleksi 

Kebiasaan saya setelah menonton film adalah merefleksikan apa yang terjadi pada film dengan kehidupan nyata. Termasuk film yang satu ini.

Menikah. Ini film memang temanya tentang pernikahan. Selain cerita tentang Harry dan Sally. Film ini selalu diselingi oleh beberapa pasangan tua yang menceritakan kisahnya saat pertemuan dengan suami dan istrinya hingga kemudian menikah sampai tua. 

Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing dalam menemukan jodoh dan kemudian mempertahankan hingga tua dan ajal memisahkan nantinya. Ada yang bertemu karena tragedi. Ada yang bertemu karena dipertemukan, dijodohkan dan lain hal. Kebanyakan mereka ingin hidup bahagia dengan adanya pasangan hidup. Padahal, ketika dua orang bersatu, tidak begitu saja mereka bahagia.

Perbedaan pendapat, pemikiran, kebiasaan, menjadi salah satu hal yang menyebabkan perselisihan. Itulah yang dialami Harry saat menikah dengan Helen dan kemudian bercerai. Atau kisah antara Jess dan Marie saat-saat ingin menikah dan tinggal bersama di sebuah rumah.

Dengan menikah, bukan membuat masalah yang ada pada diri kita hilang begitu saja. Bahkan bisa jadi masalah akan terus bertambah. Tapi itulah namanya hidup. Jika kita ingin naik kelas dan menjadi manusia yang lebih baik lagi, maka masalah akan terus ada dan kita berusaha untuk menyelesaikan masalah yang ada. Yakin bahwa Allah tidak membebani hamba sesuai dengan kemampuannya.

Menonton film ini juga membuat saya berpikir kembali tentang niat menikah. Mungkin ada yang niat menikah agar cinta antara laki-laki dan perempuan bisa bersatu dan selamnya di dunia. Atau yang lainnya. Tapi bukankah ada niat menikah yang lebih baik lagi, yaitu niatkan menikah untuk ibadah.

Sungguh bangsa Jin dan Manusia diciptakan di bumi ini hanya untuk menyembah Tuhan. Itulah yang disampaikan melalui Al-Quran. Maka menikah juga merupakan sarana ibadah. Maka alangkah lebih indah ketika ketaatan kita kepada Tuhan menjadi meningkat dengan menikah. Kemudian memiliki anak yang sholeh dan sholehah, sehingga aktivitas kebaikan semakin tersebar dan tersalurkan secara turun-temurun. Kebahagaiaan, akan mengikuti selanjutnya. 

Loh kok, kayak jadi ceramah gini ya. Enggak, bukan ceramah. Hanya sedang merefleksikan kehidupan berdasarkan film dan mengingatkan diri yang lemah ini agar terus memperbaiki diri. 

30 komentar:

  1. Tapi ide bagus nonton filem lawas hihihi

    BalasHapus
  2. Film lawas menarik untuk diambil pesan film nya

    BalasHapus
  3. Sepertinya film ini menarik
    Saya jadi penasaran sama endingnya deh
    Bisikin dong, apakah akhirnya mereka menikah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. nonton aja mba kalo mau tau akhirnya :)

      Hapus
  4. Setuju, Tuhan tidak akan membebani manusia dengan masalah yang tidak sanggup diselesaikan oleh manusia itu sendiri 👌

    BalasHapus
  5. Wahhh film lama yaa? Jadi penasaran pengen nonton filmnya deh

    BalasHapus
  6. Memang sih kalau untuk orang Islam,niat menikah seharusnya untuk ibadah. Karena pernikahan bukan melulu bunga-bunga namun ada dinamika, turun-naik, pasang-surut, dan aneka masalah dalam hidup yang yakin, akan lebih kompleks dibandingkan dengan hidup sendiri. Eits tapi bukan menakut-nakuti lho ya hihihi. Karena menikah itu kan separuh agama, in syaa Allah akan ada banyak hikmah dan berkah juga :D

    BalasHapus
  7. Wah, ini film jadul. Tapi, saya belum nonton juga. Jadi penasaran lagi juga sama film ini :)

    BalasHapus
  8. wah lawas bener ni film aku baru umur 2 th wkwkwk ceritanya unik y bertemu ga sengaja 5 th kmudian ketemu lg namanya jg film eh tp didunia real jg kadang bisa begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul-betul kadang yang terjadi di fiksi bisa jadi fakta dan fakta dijadikan bahan membuat fiksi :)

      Hapus
  9. Menonton film ini juga membuat Yogi berpikir kembali tentang niat menikah. Yasudahlah, segerakan saja. Sudah lewat seperempat abad juga toh, hahaha.. Niatkan untuk ibadah. Film begini mungkin harus diperbanyak supaya makin ingat nikah, ya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha... aamiin mba, doakan ya semoga cepat ketemu dengan jodohnya

      Hapus
  10. Aku belum nonton pilem ini. Dan penasaran juga mau nonton karena pesan yang disampaikan emang bagus ya

    BalasHapus
  11. Bener banget tuh, menikah bukan lah yang mudah. Tapi dengan menikah kita bisa lebih berkembang karena adanya tanggung jawab yang lebih besar didepan sana, yang mana ngurus masalah yang dateng, ngurus istri, ngurus anak. Oleh karena itu lah disiapkan mental yang besar untuk menikah, apakah siap atau tidak.

    BalasHapus
  12. Iih ternyata ini rilisnya pas saya SMP ya. Tapi saya baru nontonnya pas Kerja.. hahaha.. lamanyaaaa.. donlotan pula

    Bagus filmnya. Lucu. Emang saya fans berat meg ryan. Film2nya bagus2 dan romantis. Pasti makin pengen nikah lebih cepet lagi deh. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe semoga ya mba jadi cepat nikah :)

      Hapus
  13. Pernah dengar judulnya tapi belum nonton. Menikah kadang jadi momok ya, ada juga orang yang takut punya anak meski sudah menikah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebagian orang ada yang begitu memang mba..

      Hapus
  14. wah, aku termasuk orang yang jarang nonton film2 lawas terkadang bingung untuk mikirnya hahhaa tp klo nonton film luar, biasalah ya, saya lebih fokus ke fashion pemain dan melihat di zaman now.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe nonton film lawas buat mengisi waktu luang kang.. :)

      Hapus
  15. Kok kyknya sepintas familiar sama judulnya. Kyknya sih pernah nonton tapi lupa. Nantgi cari lagi ah filmnya :D
    Emang menikah sebaiknya jangan grusa-grusu tapi jg jgn lupa berusaha menemukan yg tepat :D

    BalasHapus
  16. Aku belum nonton filmnya. Tapi bisa kubayangkan pertemuan itu pasti seruuu

    BalasHapus

Nekat Lari 25 KM: Dari Stasiun Depok Lama ke Balai Kota Bogor

Lari 25 KM dari Stasiun Depok Lama menuju Balai Kota Bogor adalah hal nekat yang saya lakukan. Tanpa latihan dan persiapan yang matang, saya...