Rabu, 07 Februari 2018

Trail Run Memberikan Pelajaran Tentang Naik Turun Kehidupan

Hidup itu kadang diatas, kadang dibawah. Kalau diatas berarti kita naik. Kalau dibawah berarti kita turun. Contoh: Saat kita bepergian, kita naik taksi. Sampai di tempat kita turun dari taksi. Contoh lain: Saat kita jalan-jalan ke luar negeri, kita naik pesawat terbang. Sampai di tempat, kita turun pesawat terbang.

Lebih berat mana naik taksi atau turun taksi? Naik pesawat atau turun pesawat? Namun biasanya yang berat bukan naik atau turun taksi ataupun naik trun pesawat. Tapi yang berat itu saat bayar ongkos taksi dan pesawat. Benar gak?




BELAJAR KEHIDUPAN DARI TRAIL RUN

Saya mendapatkan pelajaran berharga tentang menikmati kehidupan saat pertama kali ikut Trail Run. Bulan November di Petungkriyono. Salah satu hutan ekowisata terbesar di Jawa Tengah. Lokasinya termasuk ke dalam Kabupaten Pekalongan.

Trail run adalah salah satu cabang lari jarak jauh di alam bebas. Pegungungan, lembah, hutan, pantai menjadi jalur lari yang menantang. Salah satu trail run yang saya ikuti adalah Petung Trail Run.
  
Saat itu saya ikut yang 12 kilometer. Berbagai tanjakan dan turunan saya lewati. Titik terendah dari jalur ini berada di ketinggian 1.174 meter dan titik tertinggi 1542 meter. Kurang lebih saya harus berlari mendaki 400 meter ke atas dan 400 ke bawah.

Salah satu jalur mendaki di Petung Trail Run (dokpri).

Berlari menanjak membutuhkan energi lebih dibandingkan berlari mendatar ataupun menurun. Maka kita akan mudah lelah. Saat menanjak, kita harus sabar. Yakinlah, bahwa namanya jalanan tidak selalu menanjak, pasti ada jalan mendatar dan jalan menurun. Dan di puncak sana, akan ada sesuatu yang membahagiakan.


Abis nanjak, foto bareng dulu (dokpri).

Jika berlari menanjak itu berat. Berlari menurun itu ringan namun sulit. Energi yang dikeluarkan memang lebih sedikit. Namun saat berlari membutuhkan teknik tinggi agar tidak terpeleset atapun terjatuh. Salah satu tekniknya adalah berlari zig-zag. Saya mengetahui itu saat mencoba mengikuti pelari lain yang melakukannya. Dan itu saya mulai lakukan di kilometer terakhir.

Selain itu menggunakan sepatu yang tepat juga penting. Saya termasuk orang yang salah menggunakan sepatu. Dalam ajang trail run, menggunakan sepatu trail sangat penting. Sepatu trail itu yang ada geriginya di alas sepatu untuk mencengkeram tanah. Jika tidak yang terjadi adalah terpeleset berkali-kali. Dan itu yang saya alami. Mungkin lebih dari lima kali saya terpeleset saat berlari turun.

Jika teknik dan peralatan yang tidak sesuai yang kamu gunakan saat berlari, maka akan ada efek negatif yang akan diterima. Lutut saya terasa sakit di kilometer akhir. Ini mungkin karena efek dari berlari menurun tanpa zig-zag. Akibatnya tekanan pada lutut sangat besar dan membuat lutut saya sakit. Untungnya saya masih bisa finish dengan strong.



HIKMAH LARI NAIK TURUN

Saya mencoba menganalogikan berlari itu menanjak adalah ujian. Saat kita berhasil sampai puncak, maka akan ada sebuah kebahagiaan yang bisa kita dapat. Contoh ketika kita mendapatkan posisi pekerjaan yang baik, pasti selalu di awali melalui perjuangan yang melelahkan. Itulah tanjakan kehidupan. Melelahkan, namun ada kebahagiaan di akhir.

Berlari menurun itu juga ujian. Jika kita lengah dan tanpa persiapan matang, maka kita akan terpeleset dan jatuh. Jika sudah jatuh, jangan pasrah dan berdiam diri. Kita harus bangun dan berlari lagi. Tujuan hidup menjadi penting, agar kita bisa selalu bangkit saat terjatuh dan terjatuh lagi.

Maka kehidupan yang menanjak dan menurun itu biasa. Karena namanya jalanan, tak selalu tanjakan. Pasti ada yang mendatar dan menurun. Itulah hidup. Jadi, nikmati saja.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nekat Lari 25 KM: Dari Stasiun Depok Lama ke Balai Kota Bogor

Lari 25 KM dari Stasiun Depok Lama menuju Balai Kota Bogor adalah hal nekat yang saya lakukan. Tanpa latihan dan persiapan yang matang, saya...