Senin, 05 Februari 2018

Emosi, Tarik Napas Dalam-Dalam dan Berlari Jauh-Jauh

Marah merupakan hal yang lumrah dialami setiap orang. Kegiatan tersebut merupakan pelampiasan dari hal-hal yang tidak menyenangkan, baik dari dalam tubuh maupun luar tubuh. Contoh, ketika kita sakit gigi, biasanya kita mudah marah. Mendengar orang berbicara keras sedikit kepada kita, langsung emosi. Atau ketika kita sedang sehat-sehatnya, namun ada orang yang sangat menyebalkan, emosi kita pun meningkat.

Ada beberapa cara yang biasa saya lakukan untuk menenangkan diri:


1.     Tarik Napas Dalam-Dalam, Hembuskan

Ketika tiba-tiba ada orang yang membuat kita kesal. Maka jangan langsung marah. Kita bisa menarik napas panjang, kemudian hembuskan. Lakukan ini sampai keadaan tenang.

Orang yang marah biasanya detak jantung akan meningkat. Nah, sambil menarik napas dalam-dalam, kita juga bisa memegang dada kita dan rasakan detak jantung. Selain mampu menenangkan diri, kegiatan ini juga mampu mengembalikan fokus pikiran kita.

Senyum yuk!


2.     Tersenyum

Senyum adalah kegiatan yang menyenangkan. Senyum merupakan cara saya untuk memafkan orang yang membuat kita kesal. Sebelum ke taraf memafkan ada level memahami. Tersenyum, membuat kita belajar untuk memahami seseorang, bahwa ada yang salah dengan mereka sehingga mereka melakukan hal yang tidak baik terhadap diri kita. Setelah kita paham, biasanya kita bisa memafkan.

Nah, memang tidak mudah ketika diri sedang marah, kemudian tersenyum. Biasanya yang keluar adalah senyum terpaksa. Memang, kegiatan ini membutuhkan latihan. Namun jika kita sudah terbiasa, hati kita akan terasa lebih lapang.




3.     Zikir, Wudhu, Sholat

Berdasarkan ajaran agama Islam, berzikir, berwudhu dan sholat adalah kegiatan yang mampu meredam amarah. Mengingat Allah menjadikan diri kita lebih tenang. Zikir yang biasa dilakukan bisa dimulai dengan membaca taawudz. Audzu billahi minasy syaithonir rojim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).

Berwudhu juga merupakan anjuran Rasullah “Kemarahan itu dari setan, sedangkan setan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah, berwudhulah” (HR. Ahmad).

Setelah itu sholat. ”Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud) (HR. Tirmidzi)


Namun kalau dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk berwudhu dan sholat, bisa dicoba untuk melakukan yang bisa dilakukan dimana saja. Pertama yaitu mengubah posisi (dari diri menjadi duduk, atau dari duduk menjadi tiduran. Kedua, diam.

“Kalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka berbaringlah” (HR. Abu Dawud). Dalam hadits lain, “Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah” (HR. Ahmad).

4.     Lari Jarak Jauh

Ketika ada orang yang membuat kita kesal, kemudian kita langsung lari jarak jauh, Jakarta-Papua. Bukan. Lari jarak jauh memang bukan cara meredam emosi namun lebih tepatnya cara menahan emosi dan melatih kesabaran.  

Contoh ketika saya mengikuti lari 25 KM, saat itu saya merasa sangat lelah dan kesal. Tidak sedikit pelari yang menyalip saya dari belakang dan meninggalkan saya dengan jarak yang jauh. Saya pun sempat mengeluh. “Dimana garis finishnya? Kapan sampenya?” Kaki sudah mau keram, badan sudah lelah dan merasa seperti masuk angin. Namun saat itu saya mencoba bersabar. “Jika ada garis start, maka ada garis finish. Jika ada laki-laki jomblo, maka ada perempuan jomblo.” Maaf yang terakhir, agak baper.

Foto ini hanya pencintraan. Sesungguhnya si baju hitam masihlah sendiri.

Ketenangan pikiran dan hati menjadi kunci untuk menyelesaikan lari jarak jauh. Tanpa ketenangan, maka yang muncul adalah kecemasan. Muncullah emosi yang tidak teratur. Ada dua pilihan, segera menyelesaikan pertandingan dengan berhenti atau lari kencang kemudian keram dan berhenti.

Saya tidak mengambil kedua pilihan mengenaskan itu. Rasa cemas yang datang, saya tendang jauh-jauh. Apalagi ketika melihat ada pelari lain yang keram dan tidak mampu melanjutkan pertandingan di kilometer 15. "Ingat saya harus sabar. Kenali kemampuan diri dan tidak tergesa-gesa." Saya pun mulai kembali tenang. Saking tenangnya, saat itu saya mampu mendengar hembusan nafas dan denyut jantung di dada.

Tak terasa, garis finish sudah di depan mata. Dan tulisan ini pun berakhir sampai disini.

5 komentar:

  1. lari emang butuh kesabaran.. apalagi jika jaraknya lumayan jauh.. kayagnya saya harus berlatih lari juga biar bisa sabar.

    BalasHapus
  2. Itu ada huruf A cakep banget buat sekedar berbaring dan melupakan masalah.

    BalasHapus

Nekat Lari 25 KM: Dari Stasiun Depok Lama ke Balai Kota Bogor

Lari 25 KM dari Stasiun Depok Lama menuju Balai Kota Bogor adalah hal nekat yang saya lakukan. Tanpa latihan dan persiapan yang matang, saya...