Senin, 24 Juli 2017

Otot Paha Ketarik, Tetap Finish di Milo JI 10 K 2017

milo 13

Minggu (22/7) saya  mengikuti event lari Milo Jakarta International 10 K 2017. Saat itu, saya berlari tidak dalam kondisi terbaik.


Rela Lari 2 KM Demi Kejar Start 
Malam sebelum berlari, tepatnya malam minggu yang begitu-begitu aja. Suara saya parau. Serak-serak kering kerontang. Badan terasa pegal dan kelopak mata tak mudah menutup dirinya. Mungkin ini gara-gara kecapean karena dua hari dua malam habis rewang tetangga yang hajatan nikahan. Alhasil di pagi hari, saya baru bangun jam 5 padahal harus start jam 6. Parah!!!

Sempat bimbang, jadi lari atau tidak. Namun karena saya sudah mendaftar dari dua bulan lalu dan jika tidak jadi maka saya harus menunggu tahun depan. Bismillah, saya pun buru-buru untuk mandi, sholat shubuh dan mengisi perut dengan susu dan sereal milo.

Jam 05.30 berangkat dan tiba di kawasan Rasuna Said jam 05.50. Saat itu sepanjang jalur Rasuna Said sudah ditutup. Saya pun harus berputar-putar untuk mencari lahan parkir yang dekat Epicentrum. Ditunjukkan oleh panitia yang berjaga, saya diarahkan ke gedung Plaza 89.

Apakah dekat dengan garis start? Tidak. Jarak ke Epicentrum sekitar satu kilometeran. Namun karena peserta sudah membludak, saya harus berputar lewat Hotel JS Luwansa, mungkin nambah satu kilometer lagi. Jadi berapa teman-teman? 2 KM. Ini namanya pemanasan yang tidak terencana.

Alhamdulillah, saya sampai di tempat start jam 6.05, dengan kondisi ngos-ngosan. Untungnya ada Pak Saefullah, Sekretaris Daerah Jakarta sedang memberikan sambutan untuk membuka kegiatan lari ini. Dilanjutkan dengan menyanyi Indonesia Raya. Lumayan ada waktu sedikit untuk stretching.

Otot Paha Ketarik, Atur Strategi

Hal yang saya takutkan terjadi. Baru di kilometer pertama, otot paha saya ketarik. Mungkin ini karena stretching yang seadanya. Atau mungkin juga karena sebelum ikut event ini, latihan rutin diabaikan alias minim persiapan.

Saya coba atur strategi, biarkan saya berlari lambat asalkan bisa masuk garis finish sebelum cutt of time (2 jam untuk 10 K).

Tidak jauh dari kilometer ketiga, saya berhenti. Saya ingat di tas saya ada hot cream. Saya oleskan dahulu di bagian paha kanan belakang. Ada untungnya tidak sempat menitipkan tas karena datang telat.

Di kilometer keempat, ternyata ada petugas medis yang membawa spray. Saya minta semprotkan di bagian paha tadi dan juga di lutut kiri yang juga sedikit sakit. Mungkin ini gara-gara peregangan dan pemanasan seadanya.

Beberapa kali saya berhenti untuk minta semprot spray. Ketika ada petugas medis, saya berhenti dan minta semprot. Lumayan menghilangkan rasa nyeri. Walaupun kalau diajak lari agak cepat, kambuh lagi.

Hal yang menantang adalah di kilometer ke 6-8. Di jarak itu saya harus menanjak jembatan monumen 66 dua kali. Usaha lari menanjak itu harus sedikit lebih keras dari jalan datar. Di kilometer itulah saya mulai berjalan kaki.

Di kilometer 8, ada petugas medis. Namun sayangnya spray sudah habis. Mau tidak mau saya memakai hotcream. Paha saya harus rela menahan sengatan pijatan krim panas.

Saya kembali berlari namun sangat lambat, sama orang jalan ternyata lebih cepat orang jalan. Langkah kaki saya lebih pendek dari pada orang berjalan. Alhasil saya berhenti berlari dan berjalan cepat. Ini salah satu strategi untuk memberikan istirahat otot kaki yang ketarik.

Inilah mengapa saya suka olahraga lari? Sebagai pelari yang tidak punya target juara, musuh terbesar bukanlah pelari lain tetapi diri sendiri. Saya menemukan ada pelari yang harus ditandu oleh tim medis, kemudian ada pula yang harus memotong jalan dan menghentikan perlombaan karena cedera.
Disinilah kita belajar bagaimana kita mengenal diri sendiri? Apa kekuatan dan kelemahan kita? Ketika target finish seakan terasa jauh, maka rasa ketidakpercayaan diri dan kemalasan yang menghampiri harus dilawan.

Melihat tulisan kilometer 9, semangat saya kembali membara. Otot kaki pun sepertinya sudah sedikit lebih kendur. Saya coba berlari perlahan-lahan, kemudian berjalan. Hingga akhirnya saya bisa berlari sedikit kencang saat menghampiri garis finish.

Ya, saya merasa beruntung bisa finish dengan berlari. Walaupun dengan catatan waktu yang tidak begitu baik. Saya finish dengan catatan waktu 1 jam 38 menit. Padahal saya pernah mencatatkan waktu 1 jam 10 menit untuk jarak 10 K.

IMG20170723100816
Yes Finish 

Bahagia Setelah Finish

Entah kenapa, setelah finish rasa sakit hilang begitu saja. Saya merasa bahagia telah menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Dan tidak lupa setelah lari, foto-foto dulu.

milo 11
I am Finisher.
 
20170723_103600 20170723_103347 
milo 1 20170723_103746

Info Event Milo Jakarta International 2017

Melansir dari Kompas.com- Pelari asal Kenya, Kennedy Lilan, berhasil menjuarai kategori 10K Open International Putra dengan catatan waktu 29 menit 34 detik. Pada kategori 10K Open International Putri, Peninah Jepkoech asal Kenya berhasil menjadi yang terbaik dengan catatan waktu 33 menit dan 47 detik.

Sementara pada kategori 10K Indonesian Only Putra, Agus Prayogo mencatakan waktu 32 menit dan juara di kategori 10K Indonesian Only Putri diraih oleh Odekta Vina Naibaho dengan catatan waktu 37 menit 3 detik.

Sementara itu, pada kategori 5K Putra, Octovianus Erwin berhasil menjadi yang pertama sampai di garis finish dengan catatan waktu 17 menit dan 31 detik sedangkan pada kategori 5K Putri, Novita Andriyani mencatatkan waktu 21 menit dan 49 detik.

Hendrik Marlionda menjadi juara pada kategori 10K Pelajar Putra dengan catatan waktu 34 menit dan 13 detik dan Delvita menjadi yang terbaik di kategori 10K Pelajar Putri dengan catatan waktu 40 menit dan 17 detik.

Jangan bandingkan dengan catatan waktu saya ya, beda dua kali bahkan tiga kali lipat. Lari itu makanan mereka sehari-hari. Kalau saya, nasi putih pake sayur asem tempe dan sambel. Jadi beda. hihihi

Target saya, bisa finish dengan sehat adalah prestasi. Dan jika beruntung, bisa memperbaiki catatan waktu saya sendiri.

Nah, bagi ayah dan bunda yang pingin ikutan lari juga, di event Jakarta International ada kategori Family Run yang merupakan lomba lari keluarga 1,7 K. Siapa tahu tahun depan berminat. Kalau saya sih jika ada kesempatan, tahun depan bakalan ikut lagi.

Rute Saya Berlari

rute 10 k

Para peserta kategori 10K melewati rute yang dimulai dari Jalan Epicentrum untuk kemudian menyusuri Jalan H.R. Rasuna Said (jalur cepat arah Mampang), kemudian berputar arah di depan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan kembali menyusuri jalan H.R. Rasuna Said (jalur cepat arah Menteng) lalu menuruni jembatan dan berbelok menuju Jalan Kusuma Atmaja, kemudian belok kiri menuju Jalan Sumenep lalu menyusuri Jalan Latuharhari, Jalan Cimahi, Jalan Kusuma Atmaja sampai di Jalan HOS Cokroaminoto kemudian kembali ke Jalan Rasuna Said (jalur lambat) dan berhenti di garis finish (kawasan Epicentrum).

Plus Jarak Berlari dari Gedung Plaza 89 muter dulu ke Lapangan Soemantri baru ke Epicentrum (1-2 km) karena takut telat. Jadi boleh juga kalau mau sebut saya finisher 12 K. hihihi

2 komentar:

  1. lariiiii aaaghhh... lari dari kenyataan. Hahaahah

    BalasHapus
  2. Jangan dong yah. Nanti kenyataannya nyariin loh. hihihi

    BalasHapus

Nekat Lari 25 KM: Dari Stasiun Depok Lama ke Balai Kota Bogor

Lari 25 KM dari Stasiun Depok Lama menuju Balai Kota Bogor adalah hal nekat yang saya lakukan. Tanpa latihan dan persiapan yang matang, saya...